El Nino & Bagaimana Seorang Anak di Kaki Gunung Meratus Bisa Menyukai Sepak Bola
SPORTS
Kahfi Sangkara
6/28/20262 min read


Piala Dunia 2006, Awal Mula Semuanya.
Siapa yang nyangka siang hari di bulan Juni 2006 menjadi awal mula semuanya. Di tengah cuaca Kalimantan yang sedang panas-panasnya, anak kelas 3 SD ini lari pulang ke rumah. Namanya juga anak-anak, yang dipikirin cuma cepet-cepet pulang, makan siang, terus pergi main sama temen-temen.
Pas sampe rumah ternyata udah ada cenil, jajanan yang selalu ku request kalau Ibuk pergi ke pasar. "Tuh ada cenil, Ibuk juga masak ikan pindang tadi abis beli di pasar" katanya. Abis makan Ibuk ngasih sendal warna biru, pas ku liat ternyata sendal dengan logo Piala Dunia Jerman 2006.
Nobar Final Piala Dunia Untuk Pertama Kalinya.
Waktu itu aku masih belum tau apa-apa, yang ku tau cuma Ayah dukung Italia. Setiap hari dia dan bapak-bapak lain selalu ngobrolin bola. Ada yang suka Inggris, Brazil, Argentina, macem-macem lah, pokoknya kampung full bendera-bendera negara. Udah macam markas PBB.
Abis sholat Isya biasanya anak muda sama bapak-bapak udah nongkrong di "bok" perempatan deket masjid.
Gak tau kalau di tempat lain apa istilahnya, tapi di tempat ku biasanya setiap perempatan selalu dibikinin tempat duduk dari semen buat nongrong. Di deket situ juga ada pos ronda dan rumah om Luki, dua tempat yang selalu jadi lokasi nobar.
Malam itu orang-orang udah ngumpul kaya biasa, ramenya bukan main karena jam 2 dini hari nanti final Prancis vs Italia. Walaupun aku gak terlalu suka keramaian tapi kalau nonton bola beda cerita, makin rame rasanya makin seru.
Belum selesai babak pertama, aku udah ketiduran di rumah om Luki. Ayah sama yang lain nonton sampai subuh dan jadi saksi Italia yang sah juara piala dunia untuk ke 4 kalinya.
Awal Kejayaan Timnas Spanyol dan Striker Ganas Berjuluk "El Nino"
Setelah momen itu, aku jadi suka nonton bola. Kalau gak nonton live, ya nonton highlight di Sport 7 pagi sebelum berangkat sekolah.
Anak cowok yang besar di era 2000-an pasti relate sama momen ini. Masalahnya suka nonton bola tanpa punya timnas jagoan rasanya kaya ada yang kurang, apalagi kalau udah ada Euro atau Piala Dunia lagi.
Untungnya waktu itu ada Fernando Torres, striker Liverpool yang kalau main... gila deh. Meskipun aku suka king Emyu, tapi nonton Torres itu bener-bener seru. Body kuat, pinter cari ruang, speed kenceng, heading oke, kaki kanan kiri sama-sama "hidup", bener-bener paket komplit.
Biasanya waktu giring bola, anak-anak kecil suka teriak seolah-olah jadi pemain idolanya entah itu Cristiano Ronaldo, Messi, Kaka, atau Drogba. Mungkin aku satu-satunya yang teriak Torres waktu itu.
Mulai dari situ, setiap Euro aku jadi dukung Spanyol. Waktu final Euro 2008, Torres cetak gol satu-satunya yang bawa Spanyol menguasai Eropa lagi setelah 44 tahun. Ini juga awal kebangkitan Spanyol yang akhirnya juara Piala Dunia 2010 dan Euro 2012 ngalahin Italia di final.
Sayangnya waktu Piala Dunia 2010 Torres ngorbanin karirnya. Dia gak perduliin saran dokter dan maksa main walaupun kakinya masih cedera. Juara yang harus dibayar mahal karena setelah itu karirnya mulai menurun.
Sampai sekarang, di tengah banyaknya stiker top, aku masih suka nonton highlight Torres waktu masih main. Selain seru, itu juga jadi obat kangen masa kecil ketika baru mulai suka sama dunia sepak bola.




Courtesy: Kalsel Today
